Home > Artikel > Motif Ekonomi dan Kekuasaan di kerusuhan TARAKAN?

Motif Ekonomi dan Kekuasaan di kerusuhan TARAKAN?


Konflik yang awalnya persoalan personal ini meluas menjadi persoalan suku atau etnis. Bisa saja, konflik ini sudah ditungangi kepentingan lain melihat aksi yang meluas itu seperti terorganisir. Salah satu kelompok, misalnya, mengenakan simbol dengan pita warna kuning sebagai penanda suku mereka.
Demikian pandangan pengamat kepada Tribun di Makassar, Kamis (29/9) mengomentari konflik yang melibatkan pendatang dari Sulsel dengan suku lokal di Tarakan. Antorpolog UNM Dr Halilintar Lathief menilai, perantau Bugis saat ini telah kehilangan sikap untuk menghargai orang lain sipakatau sehingga memicu terjadinya konflik.

"Orang Bugis di perantauan dulu berbeda dengan sekarang. Dulu mereka sangat menghargai budaya dan hukum adat setempat. Daerah yang didiaminya di tanah perantauan dianggap miliknya sendiri," kata Halilintar.
Akibat dari fenomena ini, muncullah kecemburuan sosial. Cemburu karena adanya kompetisi perebutan kursi kekuasaan dan kesenjangan ekonomi. Halilintar menambahkan, proses pembauran orang Bugis di Kalimantan, termasuk tarakan, sudah berlangsung lama.

 

Orang Bugis di perantauan membuat konsensus dengan menikahi orang setempat. Dari hasil pernikahan tersebut melahirkan generasi yang menikah lagi dengan warga setempat, dan seterusnya. Jadi, sebenarnyam, mereka sudah menyatu.

Menanggapi hal tersebut Hasrullah menilai penting jika ada sharing power atau pembagian kekuasaan antara pribumi dan pendatang.
"Jika misalnya bupati dan wakil bupatinya pendatang, maka sekdanya harus pribumi," kata dosen yang pernah meneliti konflik antaragama di Poso, Sulawesi Tengah ini.

Ia lalu menambahkan bahwa ketika politik dan ekonomi menjadi ideologi, maka warga pendatang akan menguasasi daerah yang didatanginya itu. Adanya kesenjangan ekonomi dan perebutan kekeuasaan juga dibenarkan oleh Pakar Hermeneutika Filsafat UIN Alauddin Makassar Dr Moh Sabri.
"Konflik di Tarakan terkait dengan faktor ekonomi dan kekuasaan dan bisa jadi berpotensi menjadi konflik besar," kata Sabri saat berkunjung ke Tribun, kemarin.

Sementara budayawan Unhas, Ishak Ngeljaratan, memandang sama soal motif di balik konflik. Ia memandang bahwa orang Bugis di manapun merantau selalu sukses di bidang ekonomi dengan menguasai aktivitas perdagangan. Sementara itu sebagian masayarakat pribumi cemburu terhadap orang Bugis.

"Karena ekonomi, pendatang biasanya menjadi lebih ekskulsif di tengah masyarakat pribumi," katanya kepada Tribun usai menjadi pembicara dalam acara diskusi dan pemutaran film Crossing Bundaries: Cross Culture Video Making Project for Peace oleh Yayasan Interseksi Jakarta di Rektorat UNM Gunungsari.

Pengamat komunikasi politik, Dr Hasrullah, berpendapat sama."Ketika orang tergusur, termarginalisasi, orang itu kemudian akan melawan. Apalagi, orang pergi salat kemudian kok dipalak. Jadi, ya itu pasti akan melakukan perlawanan," kata soal awal konflik ini.

Sabri kemudian mengkritisi penyebab konflik yang berawal dari kriminal biasa lalu meluas menjadi persoalan etnis. Menurutnya terlalu mahal jika pembunuhan seseorang harus dibayar dengan konflik yang melibatkan dua suku.

KKSS
Halilintar Lathief menilai bahwa selama ini wadah yang menghimpun warga Sulsel di perantauan, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) tidak berfungsi sebagai media komunikasi antaretnis. "KKSS itu orientasinya ekonomi dan kekuasaan," kata kurator koleksi bugis di Museum Wina, Austria ini.

KKSS selama ini juga dinilai tidak dapat membangun semangat multikultur yang dapat mewujudkan perdamaian dan keharmonisan.
Ishak Ngeljaratan juga menganggap bahwa komunikasi antaretnis selama ini putus utamanya di Tarakan, Kalimantan Timur.

Putusnya komunikasi tersebut menurut pria asal Maluku ini harus disambung kembali melalui dialog budaya yang difasilitasi oleh KKSS atau pejabat turunan atau asli Bugis. Melalui dialog itu dapat dibangun pemahaman untuk saling menghargai antaretnis.

sumber.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: